Terbaik Nasional, Papua Kebut Cetak Sawah 30 Ribu Hektare Tuntas 2026

Plt Kadis Ketahanan Pangan Papua keberhasilan program ini harus dipersiapkan secara maksimal agar Papua tidak hanya mengejar swasembada pangan, tetapi juga memperoleh tambahan dukungan program sebagai bentuk apresiasi atas kinerja sektor pertanian daerah.

PAPUA, Jayapura Post.Com— Program cetak sawah menjadi perhatian utama Kementerian Pertanian Republik Indonesia atas arahan Presiden RI Prabowo Subianto dalam upaya memperkuat ketahanan pangan nasional. Dari 19 provinsi penerima program pada 2025, Provinsi Papua berhasil menempati posisi pertama dengan capaian terbaik secara nasional.

Hal ini ditegaskan Pelaksana Tugas  (Plt) Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Pangan (TPHP) Provinsi Papua, Lunanka V.M.L Daimboa,kepada Media ini ,Minggu Malam (26/04/2026)  usai penanda tanganan  Kesepakatan kerjasama antara Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian dengan Pemerintah Provinsi Papua .

Lunanka menegaskan bahwa capaian tersebut menjadi dasar bagi pemerintah pusat untuk menambah berbagai program strategis di Papua, termasuk hilirisasi komoditas pertanian.

“Program cetak sawah ini menjadi indikator utama dari Kementerian Pertanian. Karena Papua berhasil menjadi yang terbaik, maka kita juga diberikan peluang untuk pengembangan hilirisasi seperti kakao, sawit, ayam pedaging dan petelur, hingga singkong dan jagung,” ujarnya.

Ia menekankan, keberhasilan program ini harus dipersiapkan secara maksimal agar Papua tidak hanya mengejar swasembada pangan, tetapi juga memperoleh tambahan dukungan program sebagai bentuk apresiasi atas kinerja sektor pertanian daerah.

Untuk tahun ini, pengembangan cetak sawah difokuskan di sejumlah wilayah, dengan luasan terbesar berada di Kabupaten Keerom seluas 17.000 hektare. Sementara di Kabupaten Jayapura mencapai 480 hektare, Kabupaten Waropen 300 hektare, dan Kabupaten Kepulauan Yapen 270 hektare.

Lebih lanjut Luna menjelaskan secara teknis, durasi pekerjaan cetak sawah ditetapkan 90 hari. Namun, untuk wilayah Papua dengan luasan di atas 100 hektare, waktu pengerjaan dapat diperpanjang hingga 120 hari. Bahkan, jika belum selesai, masih dimungkinkan penambahan waktu melalui skema lanjutan.

“Kita harapkan seluruh pekerjaan bisa rampung sehingga pada Oktober sudah bisa dilakukan penanaman,” tambahnya.

Papua sendiri mendapatkan alokasi pengembangan hingga 50.000 hektare. Dari jumlah tersebut, ditargetkan 30.000 hektare dikerjakan tahun ini, sementara 20.000 hektare akan dilanjutkan pada tahun berikutnya.

Saat ini, tahapan Survey Investigasi dan Desain (SID) menjadi fokus utama sebelum konstruksi dimulai. Pemerintah menggandeng Universitas Cenderawasih dan ITS Surabaya  untuk memastikan kesiapan lahan.

“Untuk target 30 ribu hektare, kami masih menunggu hasil SID dari Uncen dan ITS. Tahun ini kita upayakan SID untuk 50 ribu hektare bisa selesai,” jelas Lunanka.

Dengan capaian dan dukungan yang ada, Papua diproyeksikan menjadi salah satu pusat pengembangan pertanian baru di kawasan timur Indonesia (Redaksi Jayapura Post )

Penulis: Redaksi Jayapura PostEditor: Redaksi Papua Sumber Berita