Dari Silaturahmi Ke Persatuan: Warga Pasundan Teguhkan Harmoni Di Tanah Papua

Entis Sutisna : Ini menjadi momen untuk mempererat silaturahmi keluarga besar Pasundan yang tersebar di Papua

KOTA JAYAPURA, Jayapura Post.Com – Hangatnya suasana Halal Bihalal Paguyuban Pasundan 1913 Jawa Barat di Tanah Papua bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi menjadi panggung kuat persatuan di tengah keberagaman. Ratusan warga Sunda dari Jayapura, Kabupaten Jayapura, Sarmi, hingga Keerom berkumpul dalam satu semangat: mempererat tali silaturahmi dan meneguhkan kebersamaan lintas identitas.

Di tengah nuansa religius dan kekeluargaan itu, Walikota Jayapura Abisai Rollo menegaskan bahwa Halal Bihalal bukan hanya tentang saling memaafkan, tetapi juga momentum strategis untuk memperkuat fondasi sosial masyarakat.

“Dalam kegiatan ini, kita saling memaafkan dan saling menguatkan sebagai keluarga dan saudara,” ujarnya.

Ia menekankan, keberagaman yang menjadi wajah Kota Jayapura harus dipandang sebagai kekuatan kolektif, bukan sumber perbedaan yang memecah.

“Kota ini terdiri dari berbagai suku dan agama. Perbedaan itu harus kita satukan menjadi kekuatan. Jika kita mampu mempersatukan, maka kita akan kuat dalam menjaga dan membangun kota ini,” tegasnya.

Lebih jauh, Wali Kota mendorong seluruh paguyuban untuk tampil di garis depan dalam menjaga harmoni sosial. Ia bahkan membuka ruang dialog jika terjadi persoalan di tengah masyarakat.

“Kalau ada masalah dalam kerukunan, ketua paguyuban harus berada di depan. Saya siap memanggil dan duduk bersama untuk mencari solusi terbaik,” katanya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Pasundan 1913 di Tanah Papua, Dr Entis Sutisna, menyebut kegiatan ini sebagai simpul penting yang menyatukan warga Sunda di berbagai wilayah.

“Ini menjadi momen untuk mempererat silaturahmi keluarga besar Pasundan yang tersebar di Papua,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan komitmen warga Pasundan untuk terus menjadi bagian integral dari masyarakat Papua serta aktif berkontribusi dalam pembangunan daerah.

“Kami siap berkolaborasi dengan seluruh elemen masyarakat dan mendukung program pemerintah daerah,” tambahnya.

Data Paguyuban Pasundan 1913 mencatat sekitar 3.000 warga Sunda tersebar di berbagai kabupaten/kota di Tanah Papua. Kehadiran mereka diharapkan terus memperkuat nilai kebersamaan, toleransi, dan solidaritas di tengah masyarakat yang majemuk—menjadi bukti bahwa perbedaan bukanlah sekat, melainkan kekuatan untuk membangun Papua yang harmonis. (Redaksi Jayapura Post )