Diaspora Papua di Inggris Bahas Strategi Pembangunan Papua dan Tantangan Propaganda  Informasi

 

Bradford, Inggris, Jayapura Post.Com  – Diaspora Papua- Indonesia menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Papua Transformation Steps Together with Indonesia yang berlangsung di Towards Golden Indonesia 2045” di University of Bradford, Inggris, Rabu (1/7).

Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa Papua di luar negeri untuk membahas berbagai tantangan dan peluang pembangunan Papua dalam mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045.

Diskusi tersebut memfokuskan perhatian pada perkembangan propaganda berbasis media visual dan sinematik yang dinilai semakin memengaruhi persepsi masyarakat terhadap Papua dan Indonesia. Peserta menilai bahwa perkembangan teknologi informasi telah menghadirkan tantangan baru dalam membentuk opini publik, terutama melalui media sosial dan berbagai konten visual yang beredar secara luas.

Dalam paparannya, Steve Mara, mahasiswa doktoral (Ph.D.) di University of Bradford, mengatakan bahwa salah satu tantangan pembangunan Papua saat ini bukan hanya berkaitan dengan aspek ekonomi maupun infrastruktur, tetapi juga menyangkut cara masyarakat memaknai dan menyaring informasi yang diterima.

“Kemampuan masyarakat dalam memahami dan memverifikasi informasi menjadi faktor penting dalam mendukung pembangunan Papua. Arus informasi yang begitu cepat, khususnya melalui media digital dan konten visual, dapat memengaruhi cara pandang masyarakat apabila tidak disertai literasi media yang memadai,” ujarnya.

Menurut Steve, meningkatnya penggunaan media sosial yang tidak diimbangi dengan kemampuan literasi digital berpotensi mempermudah penyebaran informasi yang bersifat manipulatif. Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat membentuk persepsi publik, memperkuat polarisasi sosial, serta mengurangi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.

Ia mengingatkan bahwa apabila kondisi tersebut terus berkembang tanpa diimbangi edukasi publik yang memadai, dampaknya dapat dirasakan oleh generasi muda, termasuk kalangan mahasiswa.

“Kondisi ini berpotensi melemahkan rasa nasionalisme, meningkatkan ketidakpercayaan kepada pemerintah, bahkan membuka ruang terjadinya konflik sosial apabila informasi yang berkembang tidak disikapi secara kritis,” jelasnya.

Sebagai rekomendasi, Steve menilai diperlukan penguatan komunikasi publik antara pemerintah dan masyarakat melalui penyampaian informasi yang terbuka, akurat,dan mudah dipahami.

Selain itu, masyarakat juga diharapkan mampu menyikapi setiap isu yang berkembang secara kritis, baik yang berasal dari media sosial maupun produk visual sinematik, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang dapat menghambat pembangunan daerah.

Ia juga mengajak mahasiswa Papua, khususnya yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri, untuk terus menjaga integritas, nasionalisme, serta meningkatkan kapasitas diri sebagai bagian dari sumber daya manusia yang akan berkontribusi dalam pembangunan Papua dan Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045.

Dalam diskusi tersebut juga mengemuka pandangan bahwa kritik terhadap kebijakan pemerintah merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Namun demikian, kritik tersebut diharapkan tetap disampaikan secara konstruktif dan berdasarkan data serta fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Masyarakat perlu bersikap kritis, tetapi juga bijaksana dalam melihat setiap isu. Penting untuk memahami bahwa dalam berbagai dinamika global selalu terdapat beragam kepentingan yang dapat memengaruhi pembentukan opini publik. Oleh karena itu, setiap informasi perlu diverifikasi sebelum dijadikan dasar dalam mengambil sikap,” ungkap Steve.

FGD yang berlangsung selama satu hari tersebut menjadi forum pertukaran gagasan bagi mahasiswa Papua di Inggris mengenai pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia, literasi digital, serta penguatan persatuan sebagai fondasi pembangunan Papua yang berkelanjutan.

Peserta diskusi berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan sebagai wadah bagi diaspora Papua untuk memberikan kontribusi pemikiran bagi pembangunan daerah dan memperkuat peran generasi muda dalam mendukung kemajuan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.

Hadir dalam diskusi tersebut, beberapa mahasiswa Internasional dari beberapa negara yang ikut memberikan sumbangsi pemikiran tentang pentingnya nasionlisme dan saling mendukung antara diaspora Papua untuk membangun Papua bersama Indonesia. (Redaksi )