REALITA PAPUA DAN KERETA APINYA

OPINI  :
Oleh: Dr. Muhammad Rifai Darus, SH., MH.
Juru Bicara Gubernur Papua

PAPUA, Jayapura Post.Com -Di Papua, hampir setiap gagasan besar selalu diuji dengan satu pertanyaan yang sama :
apakah ini terlalu besar bagi kita?

Tulisan Bapak Dr. Benhur Tommy Mano berjudul “Kereta Api vs Realita Papua” patut dihargai
sebagai bagian dari tradisi berpikir kritis dalam pembangunan daerah.

Kritik adalah vitamin demokrasi. Tanpa kritik, kebijakan bisa kehilangan keseimbangannya.
Namun kritik yang sehat juga memerlukan satu hal yang sama pentingnya : memahami proses
pembangunan secara utuh, bukan hanya membaca sebuah gagasan pada potongan awalnya
lalu menganggapnya sebagai keputusan akhir.

Karena itu, beberapa hal perlu diluruskan agar percakapan publik tentang kereta api Papua
tetap berada dalam kerangka yang jernih dan saya ingin meresponnya sesuai dengan
pertanyaan yang diajukan dalam tulisan tersebut agar fokus dan terarah sambil sesekali
mensruput kopi hitam dari wilayah Lapago.

 Kereta Api Papua Bukan Gagasan Mendadak

Pertama-tama perlu ditegaskan bahwa gagasan tentang transportasi kereta api di Papua
bukanlah ide yang lahir secara tiba-tiba.
Sejak lebih dari satu dekade lalu, dalam berbagai diskursus pembangunan Papua telah muncul
gagasan tentang pentingnya sistem transportasi modern untuk memperkuat konektivitas
wilayah.

Beberapa gubernur Papua sebelumnya pernah menyinggung konsep ini dalam forum
pembangunan wilayah.

Bahkan pada masa Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua
Barat (UP4B), gagasan peningkatan konektivitas Papua melalui sistem transportasi modern
pernah menjadi bagian dari perencanaan strategis pembangunan kawasan timur Indonesia.

Artinya, apa yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Papua hari ini bukanlah menciptakan
mimpi baru. Yang sedang dilakukan adalah membaca kembali mimpi lama para pendahulu,
lalu mengujinya dengan kondisi zaman dan kebijakan nasional hari ini.

Dalam sejarah pembangunan, setiap generasi pemimpin memiliki perannya sendiri:
Ada yang melahirkan gagasan ;
Ada yang menyiapkan fondasi ;
Dan ada pula yang mencoba membawa gagasan itu lebih dekat kepada kemungkinan realisasi.

 Ketika Tahapan Awal Dibaca Sebagai Keputusan Proyek
Tulisan tersebut mempertanyakan berbagai hal: Di mana feasibility study, dari mana sumber
pembiayaan, berapa estimasi biaya, serta apa analisis risikonya. Dan bagi saya semua
pertanyaan itu tentu sah.

Namun yang perlu dipahami adalah bahwa pertemuan antara Pemerintah Provinsi Papua dan
PT Kereta Api Indonesia (KAI) sejak awal telah disebut sebagai tahapan penjajakan awal.

Dalam setiap pembangunan infrastruktur, tahapan prosesnya selalu jelas:
 penjajakan konsep
 kajian teknis dan feasibility study
 analisis pembiayaan
 kajian sosial dan konsultasi public
 keputusan Pembangunan

Dengan kata lain, pertanyaan yang diajukan dalam tulisan tersebut sebenarnya adalah
tahapan yang memang akan lahir setelah proses penjajakan ini berjalan.

Mengkritik tahap awal karena belum menghasilkan dokumen tahap berikutnya ibarat
meminta seorang petani menunjukkan hasil panen, padahal benihnya saja belum sempat
ditanam.

Pembangunan selalu memiliki proses: tidak ada panen tanpa menanam dan tidak ada hasil
tanpa tahapan.

Ada sebuah ironi kecil, kita ketahui Bersama bahwa Bapak Benhur Tommy Mano bukanlah
orang yang asing dengan proses pembangunan. Selama hampir sepuluh tahun memimpin
Kota Jayapura sebagai wali kota, tentu beliau memahami betul bahwa setiap proyek
infrastruktur selalu dimulai dari gagasan, kemudian perencanaan teknis, kajian kelayakan,
hingga akhirnya keputusan pembangunan. Karena itu agak mengherankan ketika tahapan
awal yang sangat lazim dalam proses pembangunan tiba-tiba diperlakukan seolah-olah
sebagai ruang gelap kebijakan. Padahal bagi siapa pun yang pernah mengelola pemerintahan,
proses ini adalah sesuatu yang sangat biasa.

 Logika Pembangunan Papua: Konektivitas Wilayah

Jika kita ingin jujur melihat realitas Papua, maka ada satu persoalan besar yang tidak bisa kita
abaikan: konektivitas wilayah. Papua adalah wilayah yang luas dengan topografi yang
kompleks.

Di tanah ini, jarak geografis sering berubah menjadi jarak ekonomi yang mahal :
Harga barang tinggi, Distribusi logistik lambat dan Mobilitas masyarakat terbatas. Karena itu
pembangunan transportasi tidak bisa dilihat hanya sebagai proyek fisik, tetapi sebagai strategi
integrasi ekonomi wilayah.

Ketika Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto membuka kemungkinan
pembangunan transportasi kereta api di Papua dan menugaskan PT Kereta Api Indonesia
melakukan kajian awal, maka langkah Pemerintah Provinsi Papua yang di Pimpin Bapak
Gubernur Matius D Fakhiri untuk merespons peluang tersebut adalah sesuatu yang wajar
dalam logika pembangunan wilayah.

Karena Ini bukan soal prestise tapi ni adalah upaya
membuka kemungkinan masa depan konektivitas Papua.

Papua dan Psikologi Keraguan

Namun di balik semua perdebatan teknis ini, ada satu persoalan yang lebih dalam: psikologi
pembangunan Papua. Selama bertahun-tahun masyarakat Papua sering mengatakan hal
yang sama: Transportasi mahal, Distribusi barang lambat, Wilayah terasa jauh satu sama lain.
Padahal kita ingin konektivitas yang lebih baik. Namun setiap kali muncul gagasan besar
untuk memperbaiki konektivitas itu, kita sering berhenti sejenak dan bertanya: Apakah ini
terlalu besar bagi Papua?

Di titik inilah ironi pembangunan sering muncul. Papua sebenarnya tidak kekurangan gagasan
besar, yang sering kita kekurangan adalah keberanian untuk mempercayai bahwa kita bisa
memulainya.

Papua tentu harus berpijak pada realitas. Tetapi realitas tidak boleh mematikan harapan.
Sejarah pembangunan selalu menunjukkan satu hal sederhana: kemajuan tidak lahir dari
mereka yang hanya melihat keterbatasan, tetapi dari mereka yang berani membuka
kemungkinan.

Jika suatu hari nanti kereta api benar-benar melintas di tanah Papua, rel itu bukan sekadar
jalur transportasi. Rel itu akan menjadi simbol bahwa Papua akhirnya berani menghubungkan
mimpi lama para pemimpinnya dengan masa depan generasi berikutnya. Dan seperti yang
sering kita katakan bersama:

“konektivitas wilayah adalah jalan menuju Papua cerah”.

Penulis: Redaksi Jayapura PostEditor: Redaksi Papua Sumber Berita