Libatkan 10 Kampung Adat, Wali Kota Abisai Rollo Dorong Aksesoris Port Numbay Jadi Produk Budaya Bernilai Ekonomi

Abisai Rollo, memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai pelatihan ini menjadi langkah strategis dalam mempertahankan identitas budaya masyarakat asli Port Numbay

KOTA JAYAPURA, Jayapura Post.Com – Upaya pelestarian budaya lokal terus diperkuat melalui pelatihan pembuatan aksesoris adat khas Port Numbay yang melibatkan 10 kampung adat di Kota Jayapura. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, 24–25 April 2026, dengan diikuti sekitar 100 peserta dari unsur masyarakat adat.

Pelatihan tersebut diikuti oleh para ibu dari 10 kampung adat, termasuk istri ondoafi, mama-mama kepala suku, serta masyarakat adat yang berdomisili di wilayah Port Numbay. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kreativitas dan keterampilan masyarakat, sekaligus menjaga kelestarian warisan budaya lokal.

Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, memberikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai pelatihan ini menjadi langkah strategis dalam mempertahankan identitas budaya masyarakat asli Port Numbay.

“Hari ini ibu-ibu dari 10 kampung adat mengikuti pelatihan pembuatan aksesoris khas Port Numbay. Ini kegiatan yang sangat baik dan perlu terus didorong karena menampilkan kekayaan budaya asli daerah,” ujarnya.

Menurutnya, hasil karya aksesoris tersebut memiliki potensi ekonomi yang besar jika dikembangkan secara berkelanjutan. Produk seperti ikat kepala, hiasan rambut, tusuk konde, dan berbagai aksesoris lainnya diharapkan dapat dipasarkan lebih luas, termasuk di toko dan pusat perbelanjaan di Kota Jayapura.

“Ke depan, aksesoris khas Port Numbay bisa menjadi oleh-oleh bagi pengunjung dari luar daerah. Ini akan memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat adat,” tambahnya.

Wali Kota juga mengajak masyarakat dari 10 kampung adat untuk terus menjaga kebersamaan serta mempererat hubungan kekeluargaan dalam membangun kampung dan Kota Jayapura secara bersama.

Sementara itu, Nerlince Wamuar Rollo menyebut pelatihan ini menjadi bagian penting dalam menegaskan identitas masyarakat Port Numbay di tanahnya sendiri.

“Melalui pelatihan ini, kami ingin menunjukkan jati diri orang Port Numbay. Selama dua hari, ibu-ibu dilatih membuat aksesoris khas daerah,” katanya.

Ia menambahkan, kegiatan serupa akan dilanjutkan dengan pelatihan bagi kaum bapak yang difokuskan pada pembuatan topi dan mahkota khas Port Numbay. Selain itu, diharapkan pemerintah dapat memberikan ruang bagi masyarakat adat untuk menampilkan hasil karya dalam berbagai ajang budaya, termasuk perayaan 17 Agustus mendatang melalui karnaval budaya.

Ketua panitia pelaksana, Melsina Mra Mra, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat adat di bidang kerajinan sekaligus melestarikan warisan budaya dari 10 kampung adat Port Numbay.

“Kami ingin menciptakan pengrajin lokal yang mandiri dan mampu bersaing di pasar modern tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya,” ujarnya.

Melalui pelatihan ini, aksesoris khas Port Numbay diharapkan tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan ekonomi masyarakat adat di Kota Jayapura. (Redaksi Jayapura Post )